Bagaimana Kehidupan Budaya dan Sosial di Tiongkok – Cina berisi seperlima dari populasi dunia dan merupakan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Seorang pengunjung ke negara itu melihat pertemuan antara budaya kuno yang berasal dari sekitar 2000 SM dengan dorongan menuju kemajuan budaya modern. Partai Komunis memberlakukan kontrol ketat atas sebagian besar aspek kehidupan rakyat Cina; namun, hal itu telah membuat perbaikan di beberapa bidang, terutama bagi perempuan.

Bagaimana Kehidupan Budaya dan Sosial di Tiongkok

Pernikahan dan Keluarga

Orang Cina sangat menekankan pada garis keturunan dan ikatan keluarga. Beberapa keluarga dapat melacak silsilah mereka kembali selama berabad-abad. Bagi pria, meneruskan nama keluarga dengan memiliki anak laki-laki adalah tujuan utama. Banyak pria, terutama putra sulung, tetap tinggal di rumah bersama orang tua mereka untuk merawat mereka di hari tua.

Bahkan pasangan yang sudah menikah sering tinggal bersama orang tua. Banyak pasangan muda berkonsultasi dengan mak comblang untuk mencari jodoh. Setelah seorang wanita menikah, dia diharapkan untuk bergabung dengan keluarga suaminya dan sering pindah di bawah satu atap dengan mertuanya.

Hubungan Gender

Isu peran gender dan kesetaraan telah diperdebatkan di Cina. Keyakinan tradisional selalu menempatkan laki-laki di atas perempuan dalam hierarki sosial, dan masalah ini telah diperburuk sejak pemerintah Komunis memprakarsai kebijakan satu anak. Keyakinan lama menciptakan tekanan pada keluarga untuk menghasilkan anak laki-laki sehingga nama keluarga akan terus berlanjut.

Hasilnya adalah sejarah buruk pembunuhan bayi perempuan dan pengabaian, yang belum dihilangkan. Namun, di bawah Komunisme, perempuan telah membuat langkah besar di bidang lain, terutama dalam bekerja dan mengambil peran yang lebih besar dalam kehidupan profesional dan publik. Mereka dapat mewarisi properti.

Perilaku, Etiket, dan Nilai

Budaya Cina secara tradisional menghargai nilai kelompok di atas nilai satu individu; kebangkitan Komunisme telah menegakkan ini. Bagi orang Cina, kegagalan untuk melakukan tugas adalah tidak terhormat, tidak hanya untuk individu tetapi untuk seluruh keluarga.

Penghormatan dan kepatuhan kepada orang yang lebih tua adalah yang paling penting, seperti juga gagasan tentang keramahan dan ikatan sosial. Beberapa generasi mungkin tinggal dalam jarak dekat dan berhubungan satu sama lain setiap hari, dan tetangga mengunjungi dan berinteraksi secara teratur.

Kelas Ekonomi dan Sosial

Tradisi pandangan Konfusianisme yang dominan mendorong stratifikasi sosial. Di bawah Komunisme, pekerja pemerintah dan pengusaha makmur dengan mengorbankan buruh pertanian pedesaan. Untuk ekonomi yang sedang berkembang ini, orang mendambakan simbol status seperti mobil mewah dan pakaian desainer untuk menunjukkan kesuksesan mereka, terutama di daerah perkotaan.

Di daerah pedesaan, seperti yang dihuni oleh minoritas Uighur dan Tibet, kebiasaan sosial suku tradisional masih berkuasa, dengan orang-orang berpakaian seperti yang mereka miliki selama ribuan tahun. Pendidikan adalah wajib dan dihargai baik oleh budaya maupun oleh negara; Komunis, dalam waktu 50 tahun, menaikkan tingkat melek huruf dari 15 persen menjadi lebih dari 75 persen.

Agama, Adat dan Hari Libur

Orang Tionghoa merayakan festival keagamaan, seperti Festival Musim Semi, Festival Bulan, dan Hari Sapu Makam (untuk menghormati leluhur), serta festival sekuler seperti Tahun Baru Imlek; dan semuanya melibatkan ritual simbolis dan makanan. Kelahiran seorang anak adalah peristiwa menggembirakan lainnya, khususnya upacara pemberian nama; kepala bayi laki-laki dicukur dan dibungkus dengan kain merah, yang kemudian dibuang ke sungai.

Bagaimana Kehidupan Budaya dan Sosial di Tiongkok

Pemakaman besar dan rumit mengantarkan jiwa ke alam baka. Obat-obatan tradisional seperti cula badak meminjam kepercayaan Tao bahwa semua penyakit berasal dari ketidakseimbangan qi. Keyakinan rakyat sering kali sejalan dengan pemikiran tradisional yang dipinjam dari Taoisme, Konfusianisme, dan Buddha, meskipun hanya 20 persen dari populasi yang secara resmi menganut agama-agama ini.